Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 01 Januari 2013

hukum RIba' pada Bank



bagaimanakah hukumnya orang yang kerja di salah satu bank . yang di bank itu melaksanakan sistem riba'??? 
Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan  pada  asas  memerangi
riba   dan  menganggapnya  sebagai  dosa  besar  yang  dapat
menghapuskan berkah dari  individu  dan  masyarakat,  bahkan
dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.

Hal  ini  telah  disinyalir di dalam Al Qur'an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:

     "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.
     Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap
     dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (Al
     Baqarah: 276)
    
     "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
     Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum
     dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka
     jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa
     riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
     akan memerangimu ..." (Al Baqarah: 278-279)
    
Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda
    
     "Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu
     negeri, berarti mereka telah menyediakan diri
     mereka untuk disiksa oleh Allah." (HR Hakim)1


Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:

     "Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yang
     menerima suap, dan yang menjadi perantaranya." (HR
     Ibnu Hibban dan Hakim)

Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:

     "Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi
     makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi
     saksinya." Dan beliau bersabda: "Mereka itu sama."
     (HR Muslim)

Ibnu Mas'ud meriwayatkan:

     "Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba
     dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang
     saksinya, dan penulisnya." (HR Ahmad, Abu Daud,
     Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2

Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:

     "Orang yang makan riba, orang yang memben makan
     dengan riba, dan dua orang saksinya --jika mereka
     mengetahui hal itu-- maka mereka itu dilaknat
     lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat."
     (HR Nasa'i)

Hadits-hadits sahih yang sharih itulah  yang  menyiksa  hati orang-orang  Islam  yang  bekerja  di bank-bank atau syirkah (persekutuan)   yang   aktivitasnya   tidak    lepas    dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan  pegawai  bank atau  penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi  kita  dan  semua  kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

     "Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang
     pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan
     akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya
     maka ia akan terkena debunya." (HR Abu Daud dan
     Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki  hanya dengan  melarang  seseorang  bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba.  Tetapi  kerusakan  sistem  ekonomi
yang  disebabkan  ulah  golongan  kapitalis  ini hanya dapat diubah oleh  sikap  seluruh  bangsa  dan  masyarakat  Islam. Perubahan  itu  tentu  saja harus diusahakan secara bertahap dan  perlahan-lahan  sehingga  tidak  menimbulkan  guncangan perekonomian  yang dapat menimbulkan bencana pada negara danbangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan    secara   bertahap   dalam   memecahkan   setiap permasalahan yang pelik.  Cara  ini  pernah  ditempuh  Islam ketika  mulai  mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad  dan  kemauan  bersama, apabila  tekad  itu  telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap  muslim  yang  mempunyai  kepedulian  akan  hal   ini hendaklah  bekerja  dengan  hatinya,  lisannya,  dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah  (sarana)  yang  tepat
untuk   mengembangkan   sistem  perekonomian  kita  sendiri, sehingga  sesuai  dengan  ajaran   Islam.   Sebagai   contoh perbandingan,  di  dunia  ini  terdapat beberapa negara yang
tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang  berpaham sosialis.

Di  sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang  nonmuslim  seperti  Yahudi dan sebagainya. Pada
akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu,  perlu  juga  diingat  bahwa  tidak semua  pekerjaan  yang  berhubungan  dengan  dunia perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti : kegiatan  perpialangan,  penitipan,  dan  sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram.  Oleh  karena itu,  tidak  mengapalah  seorang  muslim  menerima pekerjaan tersebut --meskipun hatinya tidak rela-- dengan harapan tata perekonomian  akan  mengalami  perubahan menuju kondisi yang diridhai agama  dan  hatinya.  Hanya  saja,  dalam  hal  ini hendaklah  ia  rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan  Rabb-nya  beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:

     "Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia
     niatkan." (HR Bukhari)

janganlah  kita  melupakan kebutuhan  hidup  yang  oleh  para fuqaha diistilahkan telah
mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan saudara  penanya  untuk  menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan  rezeki,  sebagaimana  firman
Allah SWT:

     "... Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
     (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan
     tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa
     baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
     Maha Penyayang." (Al Baqarah: 173}

Catatan kaki:
1 Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih isnadnya.
2 Tirmidzi mensahihkannya. Hadits ini diriwayatkan pula
  oleh Ibnu Hibban dan Hakim, dan mereka mensahihkannya.

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam



Bagaimana sih Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam???
Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru Masehi. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.
Pendapat yang mengharamkan
a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir
Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.
Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa.
Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.
b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir
Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”
c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat
Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.
Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.
d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bid’ah
Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.
Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.
Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar’inya.
Pendapat yang menghalalkan
Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.
Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.
Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.
Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.
Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.

Dan Dalam agama Islam, yang namanya hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha. Selebihnya, tidak ada pensyariatannya, sehingga sebagai muslim, tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru.

Hukum Menonton film Purno

Bagaimanakah Hukumnya Menonton film Purno??
Film porno adalah gambar bergerak yang bertujuan untuk membangkitkan nafsu seksual penontonnya yang umumnya menampilkan adegan aktivitas seksual. Film porno secara umum dibagi dua kategori, softcore dan hardcore. Softcore adalah yang tidak menampilkan adegan seksual secara vulgar (misal penetrasi), sedang hardcore menampilkan secara vulgar. Film porno dijualbelikan dan disewakan dalam bentuk DVD, dipertunjukkan lewat internet, atau saluran TV khusus, layanan bayar tiap nonton (pay-per-view) lewat kabel dan satelit, juga lewat bioskop dewasa. (en.wikipedia.org).
Menurut Syaikh ‘Atha` Abu Rusytah, menonton film porno hukumnya haram, meski itu hanya gambar dan bukan kenyataan yang sebenarnya. Dalilnya kaidah fiqih : al-wasilah ila al-haram (Segala sarana yang mengakibatkan keharaman, hukumnya haram). Menurut beliau, pengamalan kaidah ini tidak mensyaratkan sarana itu akan mengakibatkan keharaman secara pasti, tapi cukup ada dugaan kuat (ghalabatuzh zhann) sarana itu akan mengakibatkan keharaman. Pada umumnya, film porno akan mendorong penontonnya melakukan keharaman, semisal zina. Maka kaidah fiqih tersebut dapat diberlakukan untuk kasus ini sehingga hukum menonton film porno adalah haram. (Ajwibah As`ilah, 10/10/2006).
Syaikh Ziyad Ghazzal juga menegaskan keharaman menonton film porno dalam kitabnya Masyru’ Qanun Wasa`il al-I’lam, hal. 75. Dalilnya sabda Rasulullah SAW,”Kedua mata dapat berzina, dan zina keduanya adalah melihat. Kedua telinga dapat berzina, dan zina keduanya adalah mendengar. Lidah zinanya dengan bicara. Tangan zinanya dengan menyentuh. Kaki zinanya dengan melangkah. Hati zinanya dengan berhasrat dan menginginkan. Dan kemaluan akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR Muslim).
Syaikh Ziyad Ghazzal menjelaskan wajhul istidlal (cara penarikan kesimpulan hukum) dari hadis tersebut sebagai berikut. Kalau zina telinga yang diharamkan itu dengan mendengarkan cerita tentang zina, maka lebih-lebih lagi kalau melihat gambar orang berzina. Karena melihat gambar orang berzina lebih jelas dan lebih besar pengaruhnya ke dalam jiwa daripada sekedar mendengar cerita zina. Maka melihat film porno hukumnya haram. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa`il al-I’lam, hal. 76).
Dikecualikan dari keharaman ini, pihak-pihak yang mempunyai keperluan syar’i (hajat syar’iyah), yaitu keperluan yang dibenarkan hukum syariah. Misalnya, polisi (syurthah), atau hakim (qadhi) yang akan menjatuhkan hukuman untuk pelaku suatu film porno. Dalam kondisi seperti ini, boleh hukumnya pihak-pihak tersebut melihat film porno dalam rangka pemeriksaan.
Dalilnya adalah hadis dan Ijma’ Shahabat. Diriwayatkan ketika Nabi SAW mengangkat Sa’ad bin Muadz sebagai hakim untuk menghukum mati kaum lelaki Yahudi Bani Quraizhah, Sa’ad telah membuka sarung mereka untuk mengetahui mereka sudah dewasa atau belum. (HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban). Pada zaman Khalifah Utsman, seorang lelaki pencuri tertangkap. Khalifah Utsman memerintahkan para sahabat untuk melihat aurat di balik kain sarungnya. Ternyata rambut kemaluan pencuri itu belum tumbuh sehingga dia tak jadi dipotong tangannya. (HR Baihaqi). Hal ini diketahui para shahabat dan tak ada yang mengingkarinya sehingga terwujudlah Ijma’ Shababat. (Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam, hal. 40).
Dalil-dalil ini membolehkan melihat aurat jika ada keperluan yang dibenarkan syariah. Kalau melihat aurat dibenarkan, maka melihat gambar aurat seperti film porno juga diperbolehkan, jika ada keperluan yang dibenarkan syariah, seperti pemeriksaan oleh hakim. Wallahu a’lam [

Senin, 31 Desember 2012

HUKUM CIUMAN SEBELUM NIKAH



 Bagi Kalian Yang sudah pernah ciuman, apa si Yang Membuat anda ingin ciuman ? dan terkadang orang yg sudah pernah ciuman itu malah Ketagihan, Mengapa ? apa kalian sudah tau juga bahwa ciuman itu  dosa?

Melihat bahwa anda masih pacaran dan belum menikah seperti saya. Berciuman merupakan hal yang tidak sah.. HARAM . dan di larang dalam AGAMA ISLAM !!  Dan Hal yang tidak sah adalah penyimpangan.

Semua Muncul dari hawa nafsu.
Hawa nafsu setan yang ingin menjerumuskan manusia kedalam dosa lebih jauh lagi.
Banyak nasihat dari para sesepuh (orang2 tua) ketika saya remaja.
Segalanya bermula dari ciuman. Nafsu itu akan semakin besar, objek nafsupun tidak hanya bibir, melainkan akan semakin turun kebawah Hingga terjadilah hal yang merugikan diri dan masa depan. Inilah yang kita sebut sebagai penyimpangan remaja.

SARAN , , JIKA anda di ajak :  Tolaklah dengan tegas . Jauhi rasa penasaran. Kembangkanlah rasa penasaran hanya terhadap hal yang baik dan membangun.

Hukum dosa berciuman menurut Islam dan kristen,
Menurut Islam :  
berciuman adalah hal maksiat dan Zina.
Perbuatan zina termasuk perbuatan yang
terlarang dan keji. Juga tergolong salah satu
dari sekian dosa-dosa besar. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kalian mendekati setiap perbuatan zina,
karena sesungguhnya perbuatan zina adalah perbuatan
yang keji dan jalan yang teramat buruk.” (Al-Isra: 32)

Menurut Kristen :

Ketika saya menanyakan anak-anak muda remaja: “Untuk apa
kau menjalin hubungan pacaran dengan lawan jenismu?”
Dan inilah jawaban yang umum:
1. Karena “aku sayang dia” (Perasaan)
Dasarnya adalah “cinta”. Cinta dalam tanda kutip ini perlu
diwaspadai kawan. Saya tidak mengatakan ini tidak baik.
Alangkah baiknya jika kau selidiki perasaanmu itu.
Kebanyakan dasar cinta-cintaan ini cenderung kasih
EROS, asmara memikat yang lebih mengutamakan hawa
nafsu.
Jika kau buka ensiklopedia, Eros merupakan sebuah kata
dari bahasa Yunani yang berarti cinta berdasarkan hawa
nafsu saja. Kata turunan adalah ‘erotis’.
Agape adalah bentuk cinta tanpa batas, kerap
dicontohkan dengan cinta Tuhan terhadap ciptaan-Nya.

Sumber: Wikipedia

Hubungan yang hanya berdasarkan EROS tanpa
dikendalikan AGAPE, hubungan itu akan hancur. Mengapa
saya berani mengatakan demikian? Inilah perbedaan kasih
AGAPE dan nafsu EROS:
HAWA NAFSU – “Menuntut” segala sesuatu dari
“Orang lain” demi memenuhi “EGO pribadi” walau harus
mengorbankan “Kepentingan pihak lain”.
KASIH – “Memberi” segala sesuatu dari “Diri pribadi”
demi memberkati “Orang lain” walau harus
mengorbankan “Kepentingan pribadi”.
Nyata di lapangan, kebanyakan orang berpacaran
cenderung menggunakan NAFSU dari pada KASIH.
Bahkan, ada orang yg menuntut pasangannya lebih
memperhatikan dia dari pada Tuhan? WOW! Sampai-
sampai Tuhan juga dikorbanin demi “mengemis”
perhatian dan rasa sayang dari pasangannya.
Jika kau hanya andalkan perasaan “ATAS NAMA CINTA”,
ketika kau bergesekan dan mengalami dilema: mungkin
kau menemukan kekurangan2 pasanganmu setelah
membangun hubungan pacaran dengan dia, maka saya
akan bertanya “MASIHKAH KAU MENCINTAIKU?”
Kawan, inilah pengalaman-pengalaman orang pendahulu
kita. Ternyata PERASAAN BUKAN SEGALANYA.
Relationship itu berbicara KOMITMEN sedangkan
Perasaan itu berbicara “Mood”. Saat mood-mu menjadi
busuk krn menemukan kekurangan pasanganmu yang
tidak bisa kau terima, apakah kau bisa mengatakan
bahwa kau mencintainya?
Justru, saat mood hilang, KOMITMEN-lah yang
MENYATUKAN.

Pelanggaran adalah Dosa, jika kamu sadar sudah melanggar perintah ini, maka tidak ada kata terlambat untuk kamu segera meminta ampun kepada Tuhan yang kamu percayai. agar kamu tidak mendapat hukuman.

Hukuman akan dosa tidak hanya berupa celaka, tapi juga berupa semakin tersesatnya kita didalam dosa yang lebih besar.!!

Minggu, 30 Desember 2012

hUkum Menunda ShoLat



“Eh, nonton bareng yuk? ada yang jam 18.00 nih” “emang maghrib jam berapa?” “Jam 17.45 kok, sempet lah” “isya-nya gimana? kan filmnya 2 jam-an” “ya isya ntar di rumah aja”
“Eh, jadwal acara sharing-sharingnya jam berapa?” “Jam 15.00-17.00″ “wah, ashar kan jam 15.08?” “santai lah… toh maghribnya masih jam 17.40-an, masih sempet kok”
Pernah mengalami kejadian atau percakapan yang mirip dengan contoh di atas kah? Setidaknya saya pernah mengalami hal-hal yang mirip, heheheheh. Beberapa kali saya mendapati bahwa banyak orang, muslim tentunya, yang menunda waktu shalat. Maksud menunda disini yaitu tidak mengerjakan shalat di awal waktu (ngerti kan awal waktu tu gimana?). Entah itu karena pekerjaan, kuliah, karena sedang dalam perjalanan, karena makanan belum habis, dsb. Hal ini sudah lumrah terjadi sepertinya ya? hmm…
Pertanyaannya, boleh ga sih nunda shalat? Ya boleh jika memang ada hal-hal yang menghalangi untuk mengerjakan shalat di awal waktu dan hal-hal tersebut dibenarkan dalam syariat. Misalnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunda shalat zuhur berjamaah karena udaranya masih panas, jadi Rasulullah menunda sampai udaranya jadi lebih dingin. Kalau karena hal-hal lain yang mendesak gimana? Yah…silahkan dipertimbangkan sendiri, seandainya ada agenda yang jika ditunda dapat membawa mudharat ya shalatnya bisa ditunda asalkan waktunya memang masih ada. (Biar lebih mantap mungkin bisa baca bukunya Syaikh Yusuf Al-Qardhawy yang judulnya Fiqih Prioritas, biar bisa menentukan mana yang prioritas mana yang bukan)
Apa sih? gitu aja dibahas? sok alim!
Yah, bukankah sebagai sesama muslim memang seharusnya saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran supaya tidak termasuk orang yang merugi (lihat QS. Al-’Ashr)? Allah ta’ala juga berfirman
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda
“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukan termasuk golonganku” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan kita mungkin sudah sama-sama tahu, bahwa yang disunnahkan oleh Rasulullah adalah shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid (untuk yang laki-laki). Sungguh merugi orang yang meninggalkan shalat berjamaah dan sungguh merugi orang-orang yang menunda-nunda waktu shalat, apalagi sampai hampir habis waktunya. Orang-orang yang menunda-nunda shalatnya sampai seperti itu adalah orang-orang yang lalai dalam shalatnya, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5).

Ingattt !!Sholat itu tiang agama, maka sholatlah sebelum Anda disholatkan!
Itulah tujuan Alloh Ta’alaa menciptakan jin dan manusia di dunia ini. Memang, cuma satu suku kata, yaitu “ibadah”. Ringan diucapkan, tapi mengandung makna yang begitu dalam dan luas. Ternyata, yang namanya ibadah itu tidak boleh dikerjakan dengan sembarangan, asal-asalan, ikut-ikutan atau dengan semaunya sendiri, suka-suka hati dengan mengikuti hawa nafsu. Tapi, ada petunjuk cara mengerjakannya. Maka, beruntung-lah bagi orang yang diberi petunjuk oleh Alloh Ta’alaa beragama Islam, menjadi orang yang beriman sehingga dapat mengerjakan ibadah dengan benar sesuai dengan petunjuk Alloh dan Rosul-Nya yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ibadah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits-lah yang akan diterima di sisi-Nya kelak. Sebagaimana pernyataan Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang telah diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab hadits Muwatho’, yang berbunyi:
Yang artinya: “Aku telah meninggalkan dua buah pusaka di tengah-tengah kalangan kamu sekalian, selama kamu sekalian berpegang teguh pada keduanya maka kamu sekalian tidak akan tersesat, yaitu kitabulloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (Al-Hadits)”.


Yah, mungkin segitu saja tulisan ini, khawatir nanti saya terkena dalil yang lain, hehe. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri.
Segala puji hanya bagi Allah. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat. Wallahu waliyyut taufiq…